Rabu, 06 Maret 2013

stabilitas ekonomi

Santiago, (Analisa). Para pemimpin Eropa berkumpul akhir pekan lalu di Chili mengisi waktu dengan kebiasaan iri terhadap stabilitas ekonomi di negara-negara Amerika Latin.
Ke-27 negara Uni Eropa masih terperosok dalam kebuntuan ekonomi, dimana Spanyol dan Yunani masih mengalami krisis utang yang memicu ketegangan politik dan ekonomi di zona euro.

Spanyol, yang memiliki hubungan sangat dekat dengan Amerika Latin, telah mengalami kontraksi ekonomi sejak tahun 2009. Sekalipun tahun demi tahun berlalu dan pertumbuhan terjadi pada 2011, tapi tingkat pertumbuhan tahunan tidak pernah melebihi 1 persen. Pada kuartal terakhir 2012, malah kembali turun, menyusut 0,6 persen.

Guna memberi harapan bagi pelaku pasar, menteri ekonomi Spanyol mengatakan kepada media Jumat lalu bahwa negaranya akan kembali bangkit dan mengalami pertumbuhan tahun ini. Padahal di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi Spanyol tidak akan tumbuh hingga akhir 2014.

Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy, mengumumkan rencana baru untuk merangsang ekonomi Spanyol dengan menawarkan hibah hingga 2.000 euro bagi warga untuk membeli mobil baru yang rendah polusi.

Namun ia mengingatkan bahwa Spanyol tidak dalam kondisi untuk melakukan kebijakan moneter ekspansif pada saat ini, tapi saya percaya bahwa negara-negara yang berada dalam kondisi resesi memang harus melakukannya.

Ini adalah referensi yang jelas bagi Jerman, negara ekonomi terbesar zona euro, di mana Kanselir Angela Merkel telah menolak meminjamkan atau menghabiskan dana pinjaman untuk membantu perekonomian tumbuh kecuali apabila negara-negara terlilit utang menunjukkan penghematan cukup yang dapat meyakinkan dirinya.



Jerman dianggap sebagai pencekik ekonomi bagi negara tetangganya. Hal itu dikatakan mengacu kepada banyaknya warga kaya yang telah mengirim uang mereka ke Jerman sebab sistem perbankan dan ekonomi diyakini stabil dibandingkan negara zona euro lainnya. Bahkan Jerman disinyalir telah merebut dana pemerintah yang sangat dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, Amerika Latin, yang dipimpin oleh Brazil, telah mengalami tahun pertumbuhan yang stabil, meskipun masih berada di tingkat yang lebih rendah dari yang diharapkan. Brazil hanya mengalami dua kuartal penyusutan PDB, keduanya dalam 2008, di saat dunia memasuki guncangan ekonomi setelah krisis keuangan di Amerika Serikat. Negara itu melaporkan pertumbuhan kuartal terakhir 2012 sebesar 0,6 persen.

Brazil telah melakukan pekerjaan yang lebih baik yakni memberi dukungan bagi negara tetangganya yang berpotensi rapuh, sangat berbeda dengan Jerman dimana negara tetangganya dituntut untuk melakukan penghematan yang menyebabkan kekacauan politik di Yunani dan pengangguran di Spanyol.

Melalui bank pemerintah, seperti Bank Pembangunan Nasional, Brazil telah memberikan pinjaman kepada Argentina untuk menjaga sistem keuangan stabil dan mendukung pergerakan bisnis.

Chili, negara tuan rumah pertemuan puncak pertama antara Komunitas Amerika Latin, Karibia Amerika (CELAC) serta Uni Eropa, telah melakukan usaha yang jauh lebih baik. Negara itu mengakhiri tahun lalu dengan pertumbuhan PDB 5,5 persen, kenaikan tersebut dipicu oleh melambungya harga tembaga. (Xinhua/ Dyt)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar